Praktik Belajar Filsafat (Ekspositori Jilid 3)
REFLEKSI
FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN
PERTEMUAN
KE-10
Rabu, 29 November 2017
Pukul 11.10-12.50
Gedung Lama Pasca Sarjana 200B UNY
Dipaparkan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
BismiIlahirrohmanirrohim, seperti
biasa perkuliahan dimulai dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan
masing-masing. Untuk yang beragama islam diminta membaca surat Al Fatihah dan
yang lain menyesuaikan.
Kali ini, kita bertemu dalam ekspositori ala Prof, Marsigit edisi ke 3. Di
awal, prof. Marsigit mengajak mahasiswa untuk berpikir dan membayangkan sesuatu
yang belum diketahui bendanya. Bapak hanya memberikan kis-kisi bahwa di dalam
tasnya terdapat suatu X yang bisa digunakan sebagai praktik belajar filsafat. Mencari
tahu tentang X dengan cara mendengar informasi, kemudian kita memiliki persepsi
tentang X yang belum jelas, bisa dikuatkan dengan pengetahuan strong
penglihatan, perasa, dsb. Ternyata X itu adalah satu pak permen mintz rasa
blueberry yang sudah lama ada di dalam mobil Pak Marsigit. Hahahaha ^_^
sungguh aku tak menduga sedikitpun kalau itu hanya sebungkus permen.
Sekarang
kita bisa memahami X lebih jelas karena sudah melihat dan
sudah ada kategori dalam pikiran kita bahwa itu adalah permen. Menurut Immanuel kant terdapat
empat kategori yaitu, kualiti, kuantiti, relation, dan mortalitas. Inilah bekal
untuk hidup, ini juga yang dinamakan intuisi. Karena bisa diperkuat dengan cara
dirasakan, maka permen dibagikan bapak kepada kami semua yang berada di dalam
kelas ini (Alhamdulillah lidah sedikit berasa, meski hanya sebuah permen yang makannya cuma sebentar sekali). Namun, Inilah yang dinamakan Praktek filsafat.
Yang menjadi
masalah di dalam filsafat adalah memahami kenyataan dan menjelaskan pikiran. Maka
hal yang sudah kita ketahui seperti contohnya pada permen mintz tadi coba
jelaskanlah, kita bisa mengatakan jika itu memiliki rasa yang mintz atau dingin
dan manis.
Dahulu, negara kita tidak menyadari adanya pengaruh asing, namun sekarang tidak kuasa menghadapi
pengaruh asing (so sadddd). Ambil yang baik tinggalkan yang buruk. Di
Indonesia gampang sekali mengucapkan demokrasi, tetapi pada kenyataannya apa
iya sudah demokrasi? Indonesia pada kenyataannya yaitu Indonesia yang di bumi
dan Indonesia yang di langit. Di langit adalah cita-cita, sedangkan di bumi
kenyataan yang kita alami besama-sama. moralnya adalah kebajikan pada ontologi,
nyatanya saat ini kita sedang mengalami krisis multi dimensi. Ternyata yang
dihadapi Indonesia saat ini adalah premodial, korupsi, kolusi, nepotisme, dan lain - lain. Padahal semestinya ada yang dicita-citakan.
Secara
demokrasi ilmu adalah kreatif interaktif, tetapi untuk yang lainnya seperti
indrustialism menganggap ilmu adalah disiplin. Jadi orang yang mengatakan
disiplin ilmu sebenarnya dia tidak sadar. Tiga bagian yang berada disebelah
kiri adalah tradisional semenjak zaman Belanda sudah seperti itu. Ilmu bagi
anak-anak bukanlah suatu displin, tetapi suatu kegiatan atau interaksi. Dari
sisi pendidikan, Indonesia jelas belum menuju sistem demokrasi. Semakin kita
bicara semakin nikmat dan AC nya juga semakin dingin dan pak Marsigit semakin
mendayu-dayu menjelaskannya, kita semua menjadi ngantuk, supaya kita tidak
mengantuk dan tidak menjadi belalang, kuliah kali ini sambil bediri lagi untuk
menghilangkan kantuk.
Jika kita mengajarnya trasfer of knowledge, sama saja
dengan tiga kolom yang belum direformasi atau tradisional. Teori belajar yang
kontemporer atau pragmatis, belajar adalah ide atau membangun, jika belajar
adalah membangun inilah kepentingan anak kecil, kepentingan rakyat kecil,
kepentingan murid. Segala macam modelling adalah ambisi orang tua, jika
kita belajar menunggu anak kecil sampai bisa kapan akan majunya?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Karena sudah lumayan lama bediri dan merasa capek, Pak Masigit
mempersilahkan mahasiswa untuk duduk kembali, Thanks prof. teman saya yang hamil sudah tidak betah berdiri terus, hahha.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apabila peran
guru sebagai fasilitator ingin membuat inovasi dan perkembangan yang lainnya,
jika itu Anda yang sebagai guru, guru yang lain belum tentu sama dengan kita.
Maka sehatnya hidup saya adalah seribu komponen, mulai dari sehatnya telinga,
mata, dan lain-lain.
Pendidikan
yang dikolom sebelah kiri adalah ambisi orang tua, ambisi negara, ambisi
pemerintah, dari ambisi itu semua obyeknya dibuat sedemikian rupa supaya siap
menuruti kondisi orang tua. Maka siswa dibuat untuk siap menerima apa saja,
sesuai dengan keinginan orang tua. Ketika kita menginginkan inovasi pada dunia
pendidikan yang demokrasi yang berorientasi pada siswa, maka siswa harus
sebagai aktor. Tetapi jika siswanya sebagai aktor, kapan akan selesai? Inilah
yang saat ini diterapkan pada pendidikan di Indonesia. Betapa complicated nya
melakukan inovasi pendidikan, apalagi sistem pemerintahan yang berorientasi
pada proyek. Jika ingin inovasi seharusnya pembelajarannya berbasis portofolio.
Yang menilai siswa bukanlah orang lain, tetapi guru yang mengajar, sehingga
dengan pembelajaran berbasis potofolio, catatan kegiatan selama poses belajar
tersimpan dengan baik.
Namun faktanya Indonesia masih egosentris ujian ekstenal maupun ujian nasional. Maka
sebenar-benar media pembelajaran maupun alat peraga adalah kreativitas guru,
bukan minta bantuan alat peraga kepada pemerintah. Hanya di Indonesia saja guru
meminta alat peraga, di negara lain tidak ada yang seperti ini. Contohnya
seorang pofesor asal Jepang pada tahun 2003 bekerja sama dengan Pak Marsigit
dan FMIPA UNY. Profesor Jepang diundang ke UNY untuk mengadakan workshop
pengembangan alat peraga. Alat peraga yang digunakan dari bahan bekas, yang langsung dibeli di Jogja. Bahan bekas yang digunakan adalah hairdrayer yang dikreatifkan. Sungguh, saya sangat tercengang dengan idenya, inovasinya, dan kreatifitasnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terimakasih banyak prof. Marsigit, sebelum menjelang detik-detik pertemuan terakhir perkuliahan kita, saya selalu bersyukur berkesempatan menjadi mahasiswa di kelas bapak. Alhamdulillah....
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Komentar
Posting Komentar