Penalaran ala Mr. Kant

REFLEKSI FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN
 PERTEMUAN KE-11

Rabu, 6 Desember 2017
Pukul 11.10-12.50
Gedung Lama Pasca Sarjana 200B UNY
Dipaparkan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.

BismiIlahirrohmanirrohim, seperti biasa perkuliahan dimulai dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk yang beragama islam diminta membaca surat Al Fatihah dan yang lain menyesuaikan. 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
CURAHAH HATI SEORANG DIREKTUR


Siang ini, prof. Marsigit mengawali perkuliahan filsafat ilmu dengan bercerita. Satu jam pertama beliau isi dengan menceritakan bagaimana dirinya kemarin baru saja dilantik menjadi Direktur Baru Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Memang, pemegang amanah ini sebelumnya belum bergelar Prof., maka diadakanlah pemilihan direktur baru yang sudah memiliki gelar profesor. 

Awalnya beliau tidak mengerti mengapa bisa beliau terpilih dan beliau sendiri tidak  menginginkan jabatan ini ada padanya, karena beliau sudah niatkan setelah menjadi sekretaris senat, beliau ingin istirahat dan tidak banyak kegiatan. Namun apa daya, amanah itu datang dan dipercayai untuk beliau yang mengembannya. Beliau sungguh kaget, karena 1 menit pertama sebelum pengumuman terpilihnya direktur baru, beliau tidak tahu bahwa beliau lah yang terpilih. 

Namun, karena sudah terpilih menjadi Direktur PascaSarjana, maka beliau tanggapi dan jalani apa adanya dulu. Tak lupa juga beliau curhat, bahwa sesaat setelah terpilihnya beliau menjadi Direktur Pasca, beliau langsung membeli Laptop dan Hp baru (warbiassssah dosen saya yang satu ini). Laptop seharga 16 juta dan Hp seharga 13 juta yang super keren itu, diharapkan mampu memperlancar dan mempermudah beliau dalam berkomunikasi, baik dengan para asdir-asdir, pegawai atau para mahasiswanya. 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alhamdulillah, kami ikut senang prof. Dari sini lah kami juga belajar besarnya kerendahan hati seorang Pro. Dr. Marsigit, M.A. meski sudah menjabat menjadi seorang direktur. Beliau ingin semuanya berjalan ala kadarnya, dan Pasca Sarjana UNY dijadikannya  sebagai bentuk amal ibadahnya, yang harus diemban dengan sungguh-sungguh demi mencapai orientasi dan tujuan awal dibentuknya Pasca Sarjana UNY.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 
THE CRITIC OF PURE REASON BY IMMANUEL KANT



Kali ini, kita bertemu dalam ekspositori ala Prof, Marsigit edisi ke 3. Yang lebih mengagetkan lagi bahwa kita akan belajar menerjemahkan sebuah buku yang berbahasa inggris, yang berisi pemikiran salah satu tokoh filsuf yang fenomenal yakni Immanuel Kant. Kant hidup pada tahun 1671 M, 400 tahun yang lalu. Buku tesebut aslinya menggunakan bahasa jerman, tetapi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris. Pertama-tama kita mencoba memahami kalimat dalam paragraf pertama yaitu human reason is one............ (dan akupun lupa bagaimana kelanjutan kalimat nya)

Sungguh aku tidak mengerti dengan yang dimaksud pada paragraf yang diminta untuk dipahami tersebut. Bahkan teman saya yang berlatarbelakang pendidikan bahasa inggris atau sastra inggris saja sulit untuk menyimoukan apa makna dari paragraf tersebut. Yampunnn...

Dan kemudian prof. Marsigit berkata seperti ini “Yang baru kita lakukan adalah membaca tanpa mengerti, dan itu berarti aku adalah seorang belalang. Diriku dikatakan belalang karena melihat tanpa mengerti. Jika diekstensikan bisa saja membaca tanpa mengerti. Jangan dikira setiap orang mengerti walaupun sudah membaca. Jika orang yang tidak mengerti artinya belum ikhlas dalam pikirannya. Dalam satu kalimat yang baru saja dibaca tanpa dimengerti barusan terdapat banyak arti pikiran dengan menggunakan beda kata. Itulah bahasa analog."

WOWWWW
(Akupun tercengang, dan hanya ngebatin ~ benar juga ya, kan kita belalang ~ )

“Pikiran itu penting dan bermanfaat tetapi sulit untuk diketahui. Inti dari kalimat selanjutnya ini adalah “pikiran itu mempunyai prinsip dan tidak ada yang salah dengannya dan juga merupakan gabungan antara logika dan pengalaman.”

Kemudian, Pak Marsigit mencari kalimat yang lebih panjang lagi dari dua kalimat sebelumnya. Di mana inti dari kalimat tersebut adalah

“Pikiran itu memenuhi prinsip-prinsip konsistensi dan kontradiksi, di mana logika dan penalaran itu berjalan terus-menerus tanpa berhenti. Sedangkan pengalamannya terbatas. Pikiran yang terbatas dari pengalaman yang tak terbatas itulah yang disebut metafisik. Sesuatu yang tak terbatas jika dipikirkan akan menjadi terbatas. Seperti halnya invinitregres terus-menerus tidak akan berhenti, contohya disebalik A ada B, disebalik B ada C, dan seterusnya. Inilah yang dinamakan metafisik.”

Setelah itu, Prof. Marsigit masih melanjutkan mencari kalimat yang akan dicari inti atau maknanya. Inti dari kalimat yang ditunjukkan Pak Masigit yang selanjutnya ini adalah

“Memahami hakekat dari pada berpikir sampai kepada pikiran menuju pengalaman, dengan diikuti oleh yang ada dan yang mungkin ada”

Menyadarinya sebagai suatu keterbatasan dari pada ilmu pengetahuan. Ini adalah prinsip, bukan prinsip dalam artian umum, namun prinsip dalam artian memahami isi buku ini. Adapun prinsip dalam memahami buku ini yaitu kita memiliki keterbatasan dalam hal memahami. Jadi, filsafat ilmu adalah tentang hakekat berpikir. Kita mempunyai keterbatasan yang harus disadari. (Terimakasih prof. selalu menyadarkan hal ini kepada kami)

Terdapat dua prinsip dalam berpikir, yaitu prinsip identitas dan prinsip kontadiksi. Contoh berpikir identitas adalah bahwa A=A, itu hanya ada di langit, tetapi jika sudah turun ke bumi A tidak sama dengan A. Ciri identitas manusia bukan ketidak mampuan ataupun kelemahan. Jadi, I.kant menyadari jika tidak mampu jelas mengakui tidak mampu, tetapi tidak menyerah hanya sampai disitu saja.

Pikiran manusia yang mendekati magic, namun Kant juga menyadari bahwa ia tidak mampu berpikir sampai semacam itu. Yang dimaksud magic disini adalah metafisik. Artinya metafisik tidak akan ada selesainya. Sehingga kata lain dari metafisik adalah magical art. Kita akan mengetahui apa disebalik senyuman seseorang jika kita mampu berpikir sampai pada magic dengan adanya pengalaman.

Nah, yang perlu kita tahu adalah bahwa tugas filsafat adalah untuk memberikan penjelasan tentang prinsip-prinsip berpikir walaupun kadang-kadang penjelasannya menjadi tidak bermakna atau bahkan membingungkan. Padahal penjelasan itulah yang dicari, maka di dalam filsfafat tidak bermakna itu memang benar adanya.

Critical Reason/ Pikiran murni itu adalah suatu ide sempurna, tetapi tidak berarti bahwa dia sempurna dalam menyelesaikan suatu masalah. Karena tidak ada suatu masalah dapat diselesaikan dengan sempurna. Pikiran murni itu penting, tetapi tidak cukup hanya dengan pikiran murni saja. Jadi, setiap orang memiliki pikiran murni karena pikiran murni adalah pikiran ideal. Ideal saja untuk hidup itu tidaklah cukup, untuk itu idealnya harus dilihat juga kenyataannya, maka idealnya menjadi realis.

Kita boleh saja berpikir bahwa presiden indonesia itu ideal yang adil, makmur, dll. Tetapi kita tidak cukup hanya memikirkan presiden indonesia yang ideal saja, maka harus ada empirical presiden atau kenyataannya. Sehingga, sebenar-benar hidup adalah interaksi antara ideal dan kenyataan. Oleh karena itu, tidak adalah orang sempurna, jika ada orang yang mengaku dirinya sempurna adalah orang yang munafik.

Iya, Memang, didunia ini tidak ada yang sempurna, yang bilang sempurna berarti dia Munafik, astaghfirullah.,,,,

Diakhir perkuliahan saya sangat bersyukur, dengan belajar buku filsafat berbahasa inggris ini yang dirasa sangat sulit ini, maka kita akan terasa mudah dan ringan ketika membaca elegi-elegi yang ada di blog prof. Marsigit. Alhamdulillah..





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Bisa (Wa E Wa E O) (Official Song SEA Games 26th-2011) by Yovie and His Friends

RINDU BERBALUT DOA