Terimakasih Profesor
REFLEKSI
FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN
PERTEMUAN
KE-13
Rabu, 20 Desember 2017
Pukul 15.30-17.10
Gedung Lama Pasca Sarjana 200B UNY
Dipaparkan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
BismiIlahirrohmanirrohim, seperti
biasa perkuliahan dimulai dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan
masing-masing. Untuk yang beragama islam diminta membaca surat Al Fatihah dan
yang lain menyesuaikan.
Namun kali ini Prof. Marsigit datang agak terlambat hampir 1/2 jam dikarenakan kesibukan beliau yang semakin padat sebagai konsekuensi atas jabatan barunya sebagai direktur. Dan karena Bapak juga sedang sibuk, jadi perkuliahan kali ini langsung dibuka
dengan sesi tanya jawab. Berikut beberapa pertanyaan yang dilontarkan teman-teman.
Pertanyaan ke-1
dari saudari Uswatun Hasanah :
Saat kita
berbicara dengan diri kita sendiri, tanpa berkata secara verbal, seperti misal
berkata dari hati ke hati, dalam filsafat hal semacam itu adalah metafisik atau
seperti apa?
Jawaban
beliau “jika diekstensikan, itu adalah simulasi modelling sehingga hidup kita
kedepan seperti yang kita harapkan. Dan komunikasi internal itu hermeneutika.
Jika kita sudah memiliki keterampilan untuk menghadapi segala macam cobaan,
tidak lagi ada istilah kaget atau terkejut, tidak ada lagi istilah distraktif,
maka solusi daripada distraktif adalah kita masuk ke dalam dunia distraktif itu
sendiri. Jika kita melihat dari sisi potensinya, misalnya berbicara, kita
berbicara dari mulai nol sampai dengan seribu, yang diomongkan misalnya
disiarkan keseluruh penjuru negeri, semua orang mendengarkannya, kemudian
ketika saya berbicara sendiri di dalam hati, itu belum keadaan nol, nol ketika
kita tidur (mungkin) karena saat tidur masih ada mimpi.
Pertanyaan ke-2 dari saudara Indhi Wiradika :
Mengapa dalam pewayangan, tokoh gareng, semar, petruk, bagong, selalu
muncul pada pertengahan, bukan dari awal mulai cerita?
Jawaban beliau “awal pertunjukkan
sampai dengan pertengahan itu tokoh yang jahat-jahat dan yang jelek-jelek,
semar itu perbatasan, maka tersamar, tersamar itu wajib digali dan dicari,
karena tersamar itu adalah ilmu. Sigit itu tampan, dan mar adalah semar, maka
Marsigit adalah orang tampan mencari ilmu (seketika itu juga semua mahasiswa
tertawa terbahak-bahak karena Pak Marsigit yang memuji namanya ini, hehe).
Goro-goro itu artinya sintesis, dalam wayang itu goro-goro, maka semua batas
itu adalah sintesis, barang siapa mampu melewati batas dan mampu mencapainya,
maka dia adalah orang yang mampu mencapai puncak pencapaiannya.”
Pertanyaan ke-3 dari Saudari Kartika Kirana :
Saya ingin bertanya tetapi saya juga ingin menyampaikan sesuatu kepada
Bapak, ada salam dari teman saya yang bernama Deni, dia mengetahui sosok Bapak
ketika mengikuti seminar di UST, dia tertarik dengan apa yang disampaikan oleh
Bapak ketika di acara tersebut. Dan pertanyaannya adalah .....?
(aku kurang mengerti apa yang ditanyakan oleh mba kaka, padahal seputar
matematika)
Jawaban beliau “sebelum pembahasan tentang hal itu, pekerjaan kita mau
pergi kemana tergantung niat kita, tetapi terkadang orang tidak mengerti
niatnya mau kemana. Jika masalah filsafat, hidup itu kan paradigmatis dan
filosofis, jadi kita itu paradigmanya apa, mengajar itu transfer of knowledge,
itu sudah jaman dahulu sekali. Belajar adalah perubahan tingkah laku, itu
adalah jaman prasejarah, jika orang jaman sekarang masih mengatakan belajar
adalah perubahan tingkah laku artinya jiwanya ada pada jaman sekarang tetapi
arwahnya ada pada jaman prasejarah. Maka teacher is a researcher. So,
life is a researcher. Research adalah ikhtiarnya, sedangkan nasib adalah
kuasa Tuhan.”
Dan berikut
adalah pesan – pesan dan nasehat yang saya tangkap dari panjang kali lebarnya
penjelasan prof. Marsigit, dengan segala pelajaran dan makna yang terkandung di
dalamnya. So, marilah kita simak bersama-sama :
- Barang siapa yang mampu mengatasi cobaannya, dia akan mendapatkan barokahnya.
- Jika kita dibenci atau tidak disukai orang lain, atau bahkan kita dianggap remeh tentang apa yang sedang kita lakukan, maka diamkanlah dan buktikanlah dengan karya atau hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Karena perlahan orang itu akan menerima usaha kita, menghargai apa yang kita lakukan selama ini. tidak hanya itu, mereka akan semakin tertarik dan kagum jika kita terus berusaha menampilkan yang terbaik tentang apa yang pernah diremehkannya.
- Apabila kita mendapat cemoohan dari orang yang merendahkan kita, maka hal yang harus kita lakukan hanya sabar dan isi dengan kegiatan yang positif supaya kita mampu bangkit dari keterpurukan atas cemoohan orang tersebut.
- Mengeluh, marah, bertengkar, itu semua termasuk sikap mendahului kehendak Tuhan karena sikap seperti itu sama halnya dengan kita memaksakan kehendak Tuhan. Sebetulnya kewajiban kita setiap hari hanyalah bersyukur dan berikhtiar. Maka sebenar-benar hidup ini adalah full of syukur.
- Tidak perlu kita mencari orang yang menghargai kita, karena buku, kursi, akar, rumput, tanah dan segala yang ada dan yang mungkin ada mampu menjadi saksi perjuangan kita dari mulai amal hingga dosa kita.
- Hidup itu penuh dengan penelitian. Nah, jadi sekarang semua nya bertindaklah sebagai seorang peneliti dan paradigma kuliah adalah penelitian, seminar adalah penelitian, segala yang terjadi dan yang dilakukan adalah bentuk penelitian, baik disadari maupun tidak. Mengajar adalah is a researcher, workshop adalah researcer, seminar is a researcher, touring is a researcher.
- Inovatif bagi researcher adalah peduli pada fenomena. Jadi seorang ilmuwan hebatpun harus selalu peduli dan terbuka dengan segala fenomena-fenomena yang terjadi, terlebih dengan semakin berkembangnya jaman dan kehidupan.
- Tuntutlah ilmu sepanjang waktu dan jangan pernah berhenti.
Alhamdulillah, perkuliahan satu semester ini telah usai. Ini adalah
pertemuan terakhir di semester satu ini. Semoga perkuliahan filsafat ilmu ini
benar-benar bermanfaat untuk dunia dan akhirat, bernilai ibadah, semua yang
telah dijalani dilandasi rasa ikhlas lillahita’la dan harapannya tetap menjalin
silaturahim satu dengan yang lainnya.
😊 TERIMAKASIH PROF. DR. MARSIGIT, M.A. 😊
Komentar
Posting Komentar