Hermeneutika Riset (Ekspositori Jilid 2)
REFLEKSI FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN
PERTEMUAN KE - 9
Rabu, 22 November 2017
Pukul 11.10 s.d. 12.50
Gedung Lama Pascasarjana Ruang 200B
Dipaparkan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
BismiIlahirrohmanirrohim, seperti
biasa perkuliahan dimulai dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan
masing-masing. Untuk yang beragama islam diminta membaca surat Al Fatihah dan
yang lain menyesuaikan.
Kali ini, kita bertemu dalam strategi pembelajaran yang berbeda. Ya, Ekspositori namanya, dimana mahasiswa hanya mendengarkan segala informasi dan pengetahuan filsafat dari beliau. Sungguh miris, seperti halnya anak SD, kami diminta untuk mendengarkan penjelasan dari seorang prof. Marsigit, yang jelas ekspektasi beliau pasti terlalu tinggi. Dengan hipotesis bahwa mahasiswa akan sama mengertinya dengan pengertian beliau, padahal mahasiswa hanya akan menjadi pengikut bayang-bayang beliau dan patuh terhadap beliau.
Pergantian
metode kali ini, untuk mengantisipasi kebosanan terhadap tes jawab singkat yang
sudah terjadi berulangkali dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya. Dianggapnya
ini adalah inovasi, pembeda dari yang sudah ada. Kali ini, sumber pembelajaran
berasal dari blog beliau uny.academia.edu/MarsigitHrd mengenai Maka marilah kita masuk pada
pembahasan yang beliau sampaikan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Secara ontologis, ternyata, semua
makhluk hidup melakukan research tergantung pada konteksnya, ruang dan
waktunya. Yang paling penting, bagaimana research nya binatang, manusia, orang
dewasa, mahasiswa S1, mahasiswa S2, mahasiswa S3, dan lain sebagainya.
Namun ternyata Research sekelas S1 dan S2 bukanlah murni research, tetapi hanya
dianggap berlatih meneliti. Karena sebenar-benar research ditataran
Internasional adalah yang dilakukan oleh para doktor.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alhamdulillah, dengan belajar
filsafat, pikiran kita semakin terbuka. Karena sifatnya yang berstruktur dan
berdimensi, kita semakin sadar diri tentang sebermaknaan apakah karya yang kita
punya, dan sebermanfaat apakah karya yang kita buat.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bahkan Batu yang turun dari Gunung
pun, meluncur dari atas hingga ia sampai pada satu titik tempat dimana ia
nyaman, itulah bentuk eksperimennya. Itulah bentuk research nya selama
meluncur, hingga menemukan tempat yang pas untuk singgah. Sekarang masalahanya,
"bagaimanakah membedakan tiap dunia bersama researchnya masing-masing".
Kalau dipersempit, bagaimana researchnya S1, S2 S3, jangan sampai ketiganya
melulu dengan topik perkembangan. Maka mulailah berfikir, bagaimana cara
membedakan research nya S1, S2, dan S3. Ya, Cara membedakannya adalah meliputi
yang ada dan yang mungkin ada. Bisa objeknya, metodenya, kedalamannya,
cakupannya, keluasannya, respondennya, dan lain sebagainya.
Do you know Multilevel?
Jadi Multilevel itu kita mengambil sampel dari berbagai belahan dunia,
ambil Amerika, Afrika, Australia, Eropa Barat, Kanada, dan lain-lain; kemudian
ambil stratanya lalu ambil sampelnya dari tiap-tiap daerah tersebut. Jadi
kalau bertopik " Efektivitas..." sudah menggambarkan secara tingkat
dunia. maka itulah sebenar-benar reserach dan itu hanya cocok untuk seorang
calon Doktor. Maka salah satu yang dapat menjadi pembeda research antara S2 dan
S3 adalah aspek kedalaman, keluasannya, kompleksitas, serta referensinya.
Seperti halnya Hermeneutika, Sintetik, Analitik, Apriori Aposteriori, dan
seterusnya hanya cocok untuk research level S3
Hermeneutika artinya adalah terjemah
dan terjemahan, maka dalam filsafat, pikiran para filsuf lah yang harus kita
terjemahkan. Jika niat nya dinaikkan, maka menjadi bentuk silaturrahim kita
dengan mereka, jika diturunkan ke dalam proses PBM maka menjadi interaksi
belajar mengajar. Sebenar-benar hermeneutika adalah kehidupan ku sendiri. Garis spiral menunjukkan pertemuan yang akan
terus berulang meski diwaktu yang berbeda, dan garis lurus mengartikan
bahwa kita tidak mampu mengulangi kembali waktu yang sudah berlalu pada jam dan
tempat yang sama. Sedangkan
spiral itu sendiri artinya peduli terhadap ruang dan waktu. jika yang diam
itulah sebenar-benar mitos, maka sebenar-benar hidup adalah logos. Asalkan beda
ruang dan beda waktu, itulah berhermenetika. Setiap yang ada dan yang mungkin
ada dapat berhermenetika. Maka sebenar-benar hidup adalah hermenetika antara
wadah dan isi.
Hermeneutika
terjadi pada siapapun dan kapanpun. Hermenetika antara diriku dan bukan diriku,
antara murid dengan guru, antara mata dengan obyek, antara telingan dengan
suara, antara suami dengan istri, antara kakak dan adik. Itu semua adalah
ontologis, tetapi tidak disadari oleh sebagian besar orang.
Jika di
brigh down setiap lingkaran yang ditarik keluar dalam bentuk spiral titik-titik
itu akan menjadi tiga macam fenomena : rutin (gambar yang paling datar bagian
atas), mengembang/membangun (gambar besar di tengah), dan meruncing/santifik
(gambar yang paling kecil bagian bawah).
Mirisnya,
yang terjadi di negara kita adalah pengimplementasian kurikulum 2013 yang
adalah hanya meruncing saja atau metode santifik, tidak membicarakan yang
rutin, padahal yang rutin adalah psikologis dan filsafatnya analitik dan
spiritualnya adalah barokah. Pada fenomena bagian tengah paling besar yaitu
membangun, maka sebenar-benar hidup adalah membangun, membangun yang ada dan
yang mungkin ada. Apapaun yang membangun bisa dilakukan, contohnya membangun
keluarga, membangun kepercayaan, membangun rumah, membangun bisnis. Dikarenakan
kita sebagai manusia memiliki keterbatasan, apalagi sudah punya motiv, apalagi
hidup parsial, pengalamannya kurang banyak, maka dikatakan kontraktivis, atau
bahasa jawanya cokro manggilingan. Cokro memiliki arti melingkar,
sedangkan Manggilingan memiliki arti berjalan, sehingga cokro
manggilingan memiliki makna lingkaran yang berjalan. Hidup itu cokro
manggilingan, kadang di bawah kadang di atas. Hanya dengan ilmu saja orang bisa
memanipulasi pengalaman, walupun berjalan maunya tetap di atas saja, karena
menggunakan ilmu dan latihan.
Bidang datar tetapi menggambakan
dimensi tiga. Adanya gunung, jika anda lihat ada struktunya dari bawah ke
atas, semakin ke atas semakin lembut, jika di bawah semakin kasar (dunia
nyata). Agar seseorang bisa menaiki gunung, pasti melalui perantara dan
memiliki kemampuan. Engkau adalah gunungnya dari semua sifat mu. Jika di dalam
akademik diantara S1, S2, S3, doktor, dan profesor, yang menjadi gunung adalah
profesor.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Terimakasih banyak prof. Marsigit
atas arahan di awal pertemuan kali ini. Sangat membantu kami dalam
mempersiapkan tugas akhir yang kelak akan kami kerjakan. Mari kita kembali ke
penjelasan prof. Marsigit berikutnya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gunung itu
berstruktur, apakah yang menakutkan dari dirimu itu? Yang menakutkan dari kita
semua adalah determinisnya. Maka yang menakutkan dari Tuhan adalah kuasanya.
Tetapi yang menyebabkan cinta kasih juga karena cinta kasihnya, kita bisa
melihat letusan lava yang menakutkan seperti pada gambar di atas, bukan hanya
sekedar menakutkan, tetapi juga mematikan. Maka jika seorang guru bersifat
otoriter, seperti yang sekarang dilakukan oleh Pak Marsigit, bahwa beliau
sekarang adalah sedang otoriter karena sedang menumpahkan lava-lava, apalagi
mahasiswa-mahasiswa hanya duduk-duduk pasif saja, maka metode yang paling bagus
di dunia adalah ceramah dan menampilkan film, video, ruangannya ber ac, dan
lama-lama mahasiswa pada ngantuk dan tertidur (terlebih saya yang menjadi
superduper mengantuk, im so sorry prof.).
Ya, itulah
belalang. simbol khas untuk kami yang kami buat sendiri, yang asal usulnya adalah
ketika kuliah filsafat, mata kami melihat lebar-lebar ke layar atau wajah
bapak, tetapi sebenarnya tidak paham. Lalu, supaya kita tidak menjadi belalang,
semua mahasiswa dan Pak Marsigit diminta berdiri, kecuali sang operator (si
cantik bersuara emas, penyanyinya kelas para logos, Rigia Tirza)
Luncuran gunung bisa menjadi suatu
bencana, untuk menghindari bencana tersebut dibutuhkan persiapan. Persiapannya
adalah persepsi dan persiapan. Persiapan itu sangatlah penting, jika kita siap
menghadapi bencana, maka bencana bisa menjadi barokah. Tetapi, apapun jika kita
tidak siap, barokah bisa akan menjadi suatu bencana. Kelas-kelas kita adalah
kelas penjara dan kelas bencana, guru dan murid sama-sama tidak siap, apalagi
gurunya otoriter. Jadi, orang bersiap diri menghadapi gunung meletus akan siap
menghadapi kondisi apapun. Jadi, persiapan itu sangatlah penting. Pembelajaran
apapun termasuk matematika, bisa menjadi bencana bisa menjadi barokah.
Hermenetika gagasan, ide-ide, di mana sebelah kiri adalah langit dan
sebelah kanan adalah bumi. Sebelah kiri adalah logika, dan sebelah kanan adalah
kenyataannya. Yang di sebelah kanan adalah tokohnya kenyataan, tokohnya bumi,
tokohnya realistik. Hakekatnya orang itu memang tertukar, tetapi tertukar itu
benar dan bermanfaat. Konstruktif dalam rangka bisa membangun dunia, membangun
hidup, dan membangun yang ada dan yang mungkin ada. Maka sebenar-benar yang
terjadi adalah pertentangan antara langit dan bumi. Jika tidak ada pertentangan
tidak akan pernah ada hidup. Yang menjadi masalah adalah jika yang satu saling
menguasai atau hegemoni. Bumi di jatuhkan sifat langit, maka tereliminasi itu
sama saja dengan kiamat. Yang terjadi ternyata dunia mengalami ketimpangan,
karena dunia eksploitasi oleh dunia kontemporer. Eksploitasi karena adanya
kapitalism bertemu dengan pragmatism. Pragmatism menjalar ke seluruh dunia.
Yang mendominasi adalah gabungan antara kapitalism, pragmatism, utilitarian,
dan materialism.
Pendidikan
di Indonesia ini ternyata di kuasai oleh ilmu-ilmu dasar, matematika dasar, matematika
formal, kimia murni, biologi murni. Mereka semua adalah pahlawan-pahlawan
karena bisa menghidupi dunia, dan membuat beragam temuan yang bermanfaat. Jika mereka
mengurusi anak, memfasilitasi anak, kapan seorang pendidik membuat jurnal?
Memperhatikan kebutuhan murid dalam kebijakan pendidikan itu tidaklah populer,
dan UN bukanlah untuk memfasilitasi kebutuhan siswa, tetapi untuk memenuhi
ambisi orang tua, ambisi pemerintah. iya, jelas, itulah orientasi hidup salah. semua berpatok dan menjadikan UN sebagai patokan. Kenapa pemerintah memiliki ambisi? Karena
lima tahun diukur-ukur, jika kepemimpinannya gagal maka tidak akan dipilih
lagi. Itulah benang merah dari kebijakan pemerintah. Segala macam inovasi
letaknya disini (FKIP), jika disana (yang murni) tidak perlu adanya inovasi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Karena
sudah lumayan lama berdiri, akhirnya kami dipersilakan duduk kembali, mengingat
teman kami juga ada yang sedang hamil, hehhehhe
^_^
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Iya, maka inilah yang terjadi dalam pikiran kita
saat berpikir. Garis putus-putus merupakan batas antara langit dan bumi; di
atas garis adalah langit, dan dibawah garis adalah bumi. Dimana di dalam bumi banyak sekali fenomena yang
terjadi yang dapat di rasakan dengan indera. Maka ilmu itu datang melalui
logika dan fenomena, dengan semua panca indera hingga muncullah persepsi. Satu
persepsi mempengaruhi persepsi yang lain maka dinamakan a persepsi, sehingga
sebenar-benar hidup adalah a persepsi
Namun, semua ilmu itu di dasari oleh kesadaran,
karena jikalau kita tidak sadar maka hilanglah ilmu kita. Sadar
terdapat dua macam, yaitu sadar langit dan sadar bumi. Sadar langit berupa
logika yang mengalir dari dulu hingga sekarang dan yang akan datang, yang
penting konsisten. Sedangkan sadar bumi adalah kenyataan yaitu konkritnya,
realitasnya. Maka lahirlah yang dipersepsi itu menjadi konsep, konsep itulah
penyusun kemudian menjadi ide dan kategori. Kita mampu berpikir, karena ada
kategori. Kategori tentang mana yang baik dan buruk, yang salah dan yang benar, yang
mitos maupun yang logos.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alhamdulillah, usai sudah perkuliahan kali ini. Ekspositori jilid 2 by
prof. Marsigit kali ini cukup mudah kami dalam memahaminya, tentu karena kami
telah membaca banyak elegi yang beliau sediakan di blog. Wallahu’alam bishowab.



Komentar
Posting Komentar