Sudah Mulai Mengertikah Aku (Short Answer Test Part 3)
REFLEKSI FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN
PERTEMUAN KE -5
Rabu, 25 Oktober 2017
Pukul 11.10 s.d. 12.50
Gedung Lama Pascasarjana Ruang 200B
Dipaparkan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Seperti biasa, perkuliahan dimulai dengan berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Untuk yang beragama islam diminta membaca surat Al Fatihah dan yang lain menyesuaikan. Setelah itu pertemuan kali ini, beliau meminta mahasiswa mengeluarkan selembar kertas untuk melaksanakan tes jawab singkat. Kali ini,, sebagian besar mahasiswa mendapat nilai 0 (nol), namun ada beberapa mahasiswa nilainya mulai meningkat menjadi 4 (empat) dan 8 (delapan). Berikut tabel soal dan jawaban tes jawab singkat.
No.
|
Soal
|
Jawab
|
No
|
Soal
|
Jawab
|
1
|
Kapan
|
Belum tentu ketika
|
14
|
Naik kereta
|
hermeneutika
|
2
|
Mengapa
|
terpilih
|
15
|
Wah jadinya kacau
|
sintesis
|
3
|
Bagaimana
|
hermeneutika
|
16
|
Tak sesuai rencana
|
teleologi
|
4
|
Siapa
|
Subjek atau objek
|
17
|
Iya memang aneh
|
Tak sesuai ruang dan waktu
|
5
|
Untuk apa
|
pengada
|
18
|
Namanya saja lupa
|
Intuisi
|
6
|
Sedang apa
|
mengada
|
19
|
Padahal
|
koherensi
|
7
|
Kenapa keliru
|
Tak sesuai ruang dan waktu
|
20
|
Sudah saya cek
|
Realis
|
8
|
Mau kemana
|
mengada
|
21
|
Waduh
|
intensi
|
9
|
Kenapa naik
|
relatif
|
22
|
Ehm (batuk)
|
antitesis
|
10
|
Kenapa turun
|
relatif
|
23
|
Namanya sudah menjadi bubur
|
sintesis
|
11
|
Kenapa jauh
|
relatif
|
24
|
Saya tak mengira
|
aposteriori
|
12
|
Kenapa dekat
|
relatif
|
25
|
Pantesan
|
konsisten
|
13
|
Waduh sudah terlanjur
|
takdir
|
|||
Saya selalu takjub dengan tes jawab singkat yang
diberikan pak Marsigit. Karena semua yang ada dan yang mungkin ada dapat
dijadikan sebuah pertanyaan yang sering
kali kita tidak mampu menebak apa jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan hari ini
memang lebih aneh dari biasanya, namun ketika dijelaskan pasti masuk akal.
Setelah tes jawab
singkat, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Berikut beberapa yang dapat saya
catat:
Pertanyaan ke-1 dari
saudara Bapak Johar:
Kenapa kita harus
mengada padahal kita harus bersyukur
Jawab:
Karena mengada itu adalah hakikat hidup. Kalau
hanya ada, belum tentu hidup. Hakikat
hidup itu ada yang mengada, produk dari mengada adalah pengada. Maka setiap
saat kita adalah pengada dalam setiap apapun.
Pertanyaan ke-2 dari
saudari Efi:
Semakin saya membaca
semakin kacau pikiran saya. Terkadang antara pertanyaan dan jawaban seperti
tidak sesuai atau melenceng. Bagaimana caranya supaya saya mengerti jalur
berpikir dalam perkuliahan filsafat ilmu ini?
Jawab:
Korelasi antara tes
jawab singkat dengan komentar-komentar mahasiswa di blog itu sangat kecil. Bahkan
mungkin seperti tidak ada korelasinya. Namun ini korelasi jangka panjang yang
dimaksud, karena filsafat tidak bisa jangka pendek. Adanya artikel-artikel di
blog saya itu karena saya ingin pamer pada mahasiswa agar mahasiswa termotivasi
dan jangan sampai mahasiswa coba-coba mengambil jalan pintas/ instan dalam
belajar filsafat. Saya dapat memberi lebih banyak soal sampai tak terhingga dan
berbeda-beda macam pertanyaannya, dan itu bukan untuk dihafalkan namun
dipahami, dimengerti dan direnungkan. Maka selalu berpikirlah dalam belajar
filsafat karena ini bukanlah teori yang dapat dihafalkan. Karena bisa saja satu
pertanyaan dapat memilki beberapa jawaban yang berbeda. Itu merupakan hak saya. Meskipun begitu, saya
tetap berhemeneutika, antara yang realistis dan ideal. Terkadang mahasiswa lah
yang aneh dengan jawaban tes jawab singkat. Mahasiswa merasa itu adalah jawaban
akhir dari pertanyaan tersebut, karena seharusnya mahasiswa menanyakan kembali
tentang tes jawab singkat yang diberikan tadi. Bukan tidak nyambung, namun yang
saya tanyakan ini semua adalah permainan bahasa. Filsafat jaman kontemporer
saat ini adalah filsafat bahasa. Jadi dengan berbahai bahasa dan kata-kata yang
keluar dari mulutku saja dapat difilsafatkan.
to be continue . . . . .
Pertanyaan ke-3 dari
saudari Uswah:
Bapak selalu mencontohkan
aposteriori itu dengan anak-anak, bagaimana kalau pada kehidupan orang dewasa?
Jawab:
Orang dewasa juga
memakai aposteriori. Semuanya berhemeneutika. Sebenar-benar diriku setiap saat
adalah saling berganti-ganti. Sebenar-benar engkau sekarang adalah nyata dan
abstrak. Setiap detik sebenarnya kita itu saling menerjemahkan antara abstrak
dan nyata, antara kenyataan dan doa, itulah hermeneutika hidup. Kalau orang
jawa menamakannya Cokro Manggilingan, dimana hikmah yang dapat kita ambil
adalah manusia haruslah mengambil waktu-waktu yang baik, bukan yang buruk atau
yang dapat menjerumuskan diri mereka ke pada keburukan, kesulitan atau
keterpurukan.
Pertanyaan ke-4 dari
saudara Indhi
Kita selalu menyesuaikan
diri dengan ruang dan waktu, apakah ada suatu sifat yang mana ruang dan waktu
lah yang menyesuaikan pada sifat itu?
Jawab:
Ruang adalah waktu,
waktu adalah ruang. Setiap ruang adalah setiap yang ada, waktu juga setiap yang
ada, maka kita menuju ruang padahal kita juga termasuk ruang. Kita menuju waktu
padahal kita adalah waktu. Saya tidak berkomunikasi dengan anda tanpa ruang dan
waktu. Semua yang ada dan yang mungkin ada dapat didahului dengan kata “kapan”.
Misal pak marsigit yang kapan? Kemarin, tadi, sekarang dan lain sebagainya. Otulah
bukti bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan waktu. Semua yang
ada dan yang mungkin ada dapat didahului dengan kata “dimana”. Misal park
marsigit yang dimana? Di rumah, dikelas, dan lain sebagainya.
Sepertinya masih banyak
pertanyaan mahasiswa yang lain. Namun tidak dapat saya ungkap dan ketik satu
persatu, artinya sebenarnya tiadalah daya dan kekuatan kita untuk menulis dan
mengikuti perkataan oranglain dengan detail dan benar sampai kapanpun.
Pertemuan kali ini, sungguh menguras pikiran
saya, tentang apa yang harus saya tanyakan kepada pak Marsigit berkaitan dengan
filsafat. Sulit bagi saya untuk menemukan pertanyaan yang mungkin berada dalam
konteks itu. Namun, yang dapat saya ambil dari pelajaran kali ini adalah,
selalu tentang ruang dan waktu. Ketika kita melakukan segala sesuatu nya tidak
pada tempat dan ruang waktu yang sesuai, maka kita mampu dianggap aneh. Saya juga
belajar untuk tidak sombong, dan ingin sekali membaca dan terus membaca
elegi-elegi dalam postingan pak marsigit. Namun ketulusan yang belum 100%
membuat saya seperti sulit menyempatkan waktu hanya sekedar untuk membaca postingan-postingan
tersebut. Semoga Allah memudahkan kita dalam memanajemen waktu, memahamkan kita
dengan mata kuliah ini, memberi kekuatan kita untuk ikhlas dan tulus dalam mempelajari
ilmu filsafat ini, allahumma amin.
Komentar
Posting Komentar