Perjalanan Panjang Filsafat (Ekspositori Jilid 1)


 REFLEKSI FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN
PERTEMUAN KE -3

Rabu, 11 Oktober 2017
Pukul 11.10 s.d. 12.50
Gedung Lama Pascasarjana Ruang 200B
Dipaparkan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. 
 
Seperti biasa, perkuliahan dimulai dengan berdoa menurut agama dan keyakinan masing-masing. Untuk yang beragama islam diminta membaca surat Al Fatihah dan yang lain menyesuaikan. Pada pertemuan ini, beliau menjelaskan secara gamblang tentang perjalanan filsafat. Berikut penjelasan dari beliau:

Pada filsafat, istilah-istilah di dalam nya banyak mengandung –isme  yang artinya pusat. Sehingga filsafat dapat dikatakan pusatnya, artinya kalau dimisalkan humanisme maknanya pusatnya manusia (bukan Tuhan, Tuhan ada disana). Maka hati-hatilah dalam berfilsafat. Segala macam –isme itu berasal dari objeknya yaitu pikiran. Filsafat adalah ibarat aliran air yang jernih, setidaknya kita tahu mana yang tidak jernih. Dengan berfilsafat, kita menjadi tahu arah dan tujuan kita harus kemana, yakni ke air yang masih jernih dan belum terkontaminasi. Sejarah filsafat terdiri dari 3 periode:
1.    Periode Awal
Pada 2000 Tahun sebelum masehi, banyak sekali filsuf-filsuf terkenal dan eksis pada masa permulaan salah satu yang menonjol adalah Socrates. Pada masa ini, berlaku filsafat alam. Dimana manusia masih berpikir tentang langit, bumi, dan alam semesta itu terbuat dari apa. Dalam perjalanannya, pemikiran mereka masih metafisik dan ingin mengungkap di sebalik yang fisik, disebalik yang terdengar, disebalik yang terlihat, disebalik tindakan, disebalik kebaikan, disebalik perbuatan baik itu apa, disebalik sebuah pujian dan kritikan itu apa, dan lain sebagainya. Pada periode ini, pemikiran langit menganut monoisme (tunggal, hanya satu) artinya segala sesuatu itu hanya satu. Apakah itu? Kuasa Tuhan. (Itulah jawaban jika ranahnya adalah spiritualisme). Sedang di bumi, terdapat pluralisme (banyak). Maka itulah batas imajiner antara langit dan bumi, antara pikir dan kenyataan/ real, antara idealisme dan realisme. Di bumi, sejak dulu sudah berlaku pula materialisme (berpusat di materi). Jadi tidak aneh jika jaman dulu terdapat paham komunis, dimana mereka tidak percaya adanya Tuhan.
Di langit, berlaku hukum identitas, sedang di bumi berlaku hukum kenyataan/ kontradiksi. Hukum identitas adalah A =  A, sedang hukum kontradiksi adalah A ≠ A. Untuk hukum kontradiksi bisa dibaca “Aku tidak lah mampu apalagi orang lain. Aku tidaklah mampu menunjuk diriku sendiri, sebab ketika aku belum selesai menunjuk aku sudah berubah, dari aku yang tadi menjadi aku yang sekarang”. Karena yang kenyataan ini terikat oleh ruang dan waktu. Inilah hakikat plural, jangankan orang lain diri kita saja juga plural. Maka pluralisme berada pada dunia kenyataan. Sebagai contoh, dalam kenyataan istri saya itu tidak hanya satu, tetapi banyak. Istri saya yang sore hari, ketika malam hari, ketika akan berangkat tidur, ketika pakai jilbab, dan lain seterusnya. Kita tidak dapat menjadi diri sendiri seutuhnya, sebenar-benar yang mampu menjadi dirinya sendiri adalah Tuhan, sedangkan kita sebagai ciptaannya selalu terikat oleh ruang dan waktu.
Maka ketika di atas terdapat kuasa Tuhan, manusia hanya mampu berpikir, dan menjalani kenyataan dimana sebelumnya mereka sangat berpikiran materialisme atau seperti pada zaman batu. Pikiran adalah logika dan bersifat identitas, seperti halnya matematika. Mulai definisi, aksioma, teorema 1, 2, dan lain-lain semuanya bersifat identitas yang konsisten. Konsisten adalah logis atau identitas, Artinya silahkan membuat teorema yang lain tetapi tidak boleh bertentangan dengan teorema pertama. Pikiran juga memiliki sifat analitik, sedang kenyataan memiliki sifat sintetik. Analitik identik berpasangan dengan apriori (paham sebelum kejadian sebenar-benar logika adalah apriori), tokoh skeptisisme/rasionalisme ini adalah R. Descrates, dimana berpandangan bahwa tiadalah ilmu kalau tidak ada logika/ rasio. Sedang sintetik identik berpasangan dengan aposteriori (paham setelah kejadian), tokoh empirisisme ini adalah D. Hume, karena bagi dia tiadalah ilmu tanpa adanya pengalaman. Padahal sebenar-benar ilmu adalah gabungan dari langit dan bumi.
Tokoh lain pada periode ini adalah Plato (alirannya platonisme). Bagi plato semua sudah ada. Termasuk teknologi yang canggih, hanya saja manusia sudah menemukan atau belum. Jadi matematika itu sebenarnya sudah lengkap, hanya saja manusia sudah  menemukan atau tidak. Sehingga dibangun sekolah untuk belajar dan menemukan matematika (pendidikan matematika). Itulah mengapa manusia tidak mampu menemukan matematika tingkat tinggi, karena manusia terpenjara oleh segala yang ada sekarang termasuk  pakaian, makanan, dan lain-lain. Manusia menjadi tidak bebas dalam menemukan matematika karena terbatas pada apa yang telah ada sekarang.
2.    Periode Tengah
Tahun 1671 setelah masehi, periode ini ditandai dengan lahirnya seorang filsuf Immanuel Kant. Filsafat dan mencapai pada masa modern. Pada periode ini, filsafat dapat digambarkan sebagai Modus atau Narasi Besar oleh para filosof. Filsafat pada masa ini adalah filsafat pikir atau rasio (rasionalisme). Ada juga empirisme dan kritisisme. Disini juga dunia kenyataan tergambar jelas oleh adanya dunia anak-anak. Namun jangan sampai kita meremehkan filsafat dan membelajarkan filsafat yang salah pada anak-anak. Janganlah main-main atau setengah-setengah dalam belajar filsafat, karena akan berbahaya. Belajarlah dengan senang hati dalam bentuk banyak membaca. Belajar filsafat itu tidak dapat diperintah karena filsafat itu dibangun oleh diri sendiri bukan diri saya atau orang lain. Intinya belajar filsafat itu sama saja belajar tentang pemikiran para filsuf untuk membangun filsafat diri sendiri, jangan mengikuti bayangan oranglain.
Sebenar-benar ilmu menurut Immanuel Kant adalah gabungan antara langit dan bumi. Namun, setelah bertahun-tahun bertentangan antara rasionalisme dan empirisisme, maka Immanuel Kant mengambil jalan tengah. Ia mengkritik Descrates (terlalu mengagungkan logika mengabaikan pengalaman) dan D. Hume (mengagungkan pengalaman mengabaikan logika). Maka sebagai jalan tengah, dari pengalaman cukup diambil sintetiknya, sedang rasio/logika cukup diambil apriori. Sehingga jika digabungkan, sebenar-benar ilmu adalah sintetik apriori.
to be continue . . . . .
Maka yang sebelumnya ada dilangit adalah idealisme, semakin menuju ke absolutisme. Sedangkan kontradiksi, realisme dan pluralisme itu termasuk relativisme, artinya semua yang terjadi di bumi pada dasarnya bukan suatu kewajiban yang bersifat paten tapi relatif dan bisa berubah-ubah. Karena sebenar-benar kewajiban yang absolut hanyalah kuasa Tuhan. Itulah prinsip. Hanya prinsiplah yang memiliki bayangan, jadi sebenar-benar kita yang terlihat ini adalah bayangan dari prinsip. Prinsip adalah aturan, sebenar-benar aturan yang absolut adalah kuasa Tuhan, sedangkan aturan/ kuasa manusia disebut relatif.
Pada periode ini sekitar abad ke 13, juga pernah terjadi jaman kegelapan berupa dominasi gereja dimana tidak boleh ada seorangpun yang berhak mengutarakan kebenaran kalau tidak ada perintah dari gereja. Barang siapa mengutarakan kebenaran tanpa restu dari gereja, maka dianggap mengkhianati. Efeknya adalah dapat dipenjara atau bahkan dibunuh. Pada saat itu dibumi sedang berprinsip geosentris (semua tata surya berpusat pada bumi), seakan-akan bumi adalah bunda maria dan bintang-bintang adalah gembala-gembala yang berputar mengelilinginya. Ternyata ada tokoh lain Copernicus (Copernicusiasime) yang membantah gereja tentang prinsip geosentris, namun yang benar adalah heliosentris. Heliosentris mengatakan bukan bumi sebagai pusat, namun matahari. Bumi beserta bulan beredar mengelilingi matahari. Secara diam-diam Copernicus semakin memperluas heliosentrris dengan membuat buku dengan banyak para tokoh yang setuju dengannya. Waktu terus berlanjut hingga sampailah pada munculnya jaman modern yakni adanya rasionalisme (Descrates) dan empirisisme (D. Hume) sebagai kelanjutan dari revolusi Copernicus. Hingga muncul saintisisme hingga abad sekarang, semua manusia tidak ada yang membantah perihal prinsip Heliosentris, mereka percaya dan memberlakukan prinsip tersebut.
3.    Periode Akhir
Pada masa ini disebut juga dunia kontemporer/ masa sekarang/ Power Now/ Post Modern. Komposisi pada masa ini adalah Kapitalisme (bangunan/ pusatnya kapital), pragmatisme (lebih memilih instan/ segala sesuatu yang praktis), utilitarianisme (asas manfaat), materialisme (berpusat pada materi), dan  liberalisme. Pada periode inilah kita hidup. Kita adalah orang-orang yang terpilih untuk dapat hidup pada post modern ini karena dapat berkesempatan belajar filsafat. Saat ini kita mengalami disorientasi atau kebingungan dan kekacauan, karena tidak dapat membedakan fakta dan hoax. Mengapa? Karena memang sebenar-benarnya dunia hanyalah permainan bahasa. Siapakah diirimu? Dirimu adalah kata-katamu, ungkapanmu, bahasamu, dan tulisanmu. Maka selalu hati-hatilah dalam bercakap. Dari dulu hingga saat ini, yang masih berlaku adalah filsafat bahasa atau filsafat analitik dan teknologi. Mungkin potensi Power of Mind juga lebih mendominasi pada masa ini, karena contoh\ saja seseorang yang terlahir sebagai pria namun bertahun-tahun ingin menjadi wanita dan akhirnya ia menjadi wanita melalui proses transgender, atau sebalinya, itu menjadi yang biasa dan nyata terjadi.
Pada periode ini, sebelum menjadi post modern, setelah terjadi revolusi Copernicus di periode tengah, muncullah saintisisme. Tokoh filsuf Auguste Compte (tahun 1857) mencoba menghentikan semua pemikiran para filsuf dari dulu hingga sekarang, karena mereka saling beradu argumen yang tiada guna. Padahal prinsip yang sesungguhnya saat ini kita akan hanya perlu memikirkan bagaimana cara membangun dunia. A. Compte mengatakan bahwa dunia harus dibangun tanpa harus adanya agama karena menurutnya agama tidak logis. Beginilah bagan pemikiran Auguste Compte.
 Dari bagan diatas, dapat dilihat bahwa agama menjadi tersingkirkan dan mengutamakan pemikiran saintifik. Contoh nyata terjadi pada kebijakan kurikulum 2013 ini, dimana pembelajaran mengutamakan saintifik dan menyingkirkan agama.
Proses panjang di atas ternyata sudah pernah diramal oleh cerita Resi Gutawa. Seorang resi yang bijaksana dan tinggi ilmunya, sampai-sampai ia dekat dengan para dewa. Resi Gutawa memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Dewi Windarti. Saking cantiknya, ada seorang dewa yang tertarik dengannya. Singkat cerita terjadinya skandal. Jaman dulu dewi windarti diberi hadiah cupu manik astagina dengan merek samsung yang sangat canggih. Ketika ditanya berbagai macam pertanyaan, dewi windarti diam saja tidak mengerti bahkan ketika diajak bicara  tidak peduli dengan suami ataupun sekitarnya. Resi gutawa pun marah, dan mengatakan bahwa istrinya bak sebuah patung. Setelah ditelusuri, resi gutawa barulah tahu ternyata yang membuat istrinya seperti itu adalah sebuah cupu manik astagina yang kemudian dibuanglah ke danau. Tiga anak mereka malah mengejar benda itu ke danau hingga akhirnya ketiganya menjadi monyet. Hikmahnya, dengan teknologi canggih jaman sekarang kita menjadi pasiv dan mengutamakan pemikiran saintifik daripada  mendahulukan  agama.
Apa yang dibuat oleh Auguste Compte sekarang menjadi power now dan strukturnya sudah menguasai dunia. Bagan pemikirannya berkembang menjadi:

Sekarang mari lihat yang terjadi pada negara kita. Indonesia merupakan negara kecil dengan struktur prinsip material, formal, normatif, dan spiritual yang berdasarkan pancasila. Setiap hari melalui segala kekompleksan  masalah, presiden hanya bisa menganjurkan prinsip Kerja Kerja dan Kerja. Padahal seharusnya Kerja, Pikir, dan Doa. Maka terjadilah ketimpangan dalam hidup, kalau tidak diimbangi dengan berpikir dan doa. Namun jika hanya penuh dengan berdoa, itu dinamakan fatal artinya hidup bergantung dengan takdir.
Inti dari proses panjang diatas adalah dimana sebenar-benar filsafat adalah pemikiran para filsuf dan kita sedang mempelajarinya. Sungguh, ini pertama kalinya saya dijelaskan secara gamblang tentang sejarah filsafat. lagi-lagi saya selalu berdoa ketika para filsuf memiliki pemikiran yang bertentangan dengan saya, dengan tujuan agar saya selalu dilindungi oleh Allah dalam hati dan pikiran ini. Semoga kita tidak lalu lalang dalam belajar filsafat ini, karena tentu masih banyak yang harus kita tahu dan pahami bagaimana pikiran para filsuf terdahulu. Kemudian, tirulah dan teladanilah apa yang baik dari mereka, lalu implementasikanlah bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu'alam bishowab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kita Bisa (Wa E Wa E O) (Official Song SEA Games 26th-2011) by Yovie and His Friends

RINDU BERBALUT DOA