PROSES KOGNITIF KOMPLEKS
Dewasa
ini, perkembangan kognitif siswa amatlah penting untuk menjadi perhatian setiap
guru. Kognitif adalah persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan
pemikiran rasional (akal). Proses kognitif berhubungan dengan tingkat
kecerdasan/ intelijensi yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama
ditujukan kepada ide-ide dan belajar.
Pemahaman Konseptual
dan Strategi Mengajarkan Konsep
Dalam
menumbuh kembangkan proses kognitif siswa, guru dapat memulainya dengan memberi
pemahaman siswa terhadap suatu konsep. Konsep adalah elemen dari kognisi yang
membantu menyederhakan dan meringkas informasi. Misalkan konsep
meja, jika siswa tidak mengetahui bahwa yang terdapat di dalam kelas, yang
berpasangan dengan kursi, memiliki permukaan datar, berbahan kayu, memiliki
empat kaki sebagai penyangga, dan bisa digunakan sebagai alas dalam menulis disebut meja, maka setiap kali siswa
menjumpai meja, ia harus mencari tahu apa meja itu.
Konsep
membantu siswa untuk menyederhanakan, meringkat, mengatur, dan mengingat
informasi. Guru bisa membantu siswa untuk mengenali dan membentuk konsep yang
efektif dimulai dengan mengenali ciri-ciri atau karakteristik dari suatu
konsep. Dengan ini siswa dapat membedakan suatu konsep dengan konsep lain.
Misal konsep meja dan kursi, dimana permukaan
datar kursi berfungsi sebagai tempat duduk manusia sedangkan permukaan datar
meja tidak. Beberapa strategi yang dapat dilakukan guru untuk mendefinisikan
konsep ada empat langkah, yaitu:
1. Tentukan konsep,
identifikasi fitur penting/ karakteristik konsep, hubungan ke konsep atasan
yang merupakan kelas yang lebih besar.
2.
Menjelaskan
istilah-istilah dalam definisi konsep. Pastikan karakteristik utama dipahami
siswa dengan baik.
3.
Memberi contoh
untuk mengilustrasikan/ menggambarkan karakteristik penting. Contoh – contoh
diperlukan saat anda mengajarkan konsep yang kompleks atau saat menghadapi
siswa yang kurang memuaskan.
4.
Memberi contoh
tambahan, mintalah siswa mengkategorikan konsep atau meminta mereka membuat
contoh konsep sendiri.
Setelah
siswa dapat memahami suatu konsep dan memberi contoh, guru dapat meminta siswa
membuat suatu peta ciri atau karakterisik dari suatu konsep tersebut. Dengan
peta konsep, guru dapat mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa,
sekaligus siswa juga terbantu dalam mengingat dan mendefinisikan konsep sebagai ilmu pengetahuan dasar mereka.
Tipe Proses Berpikir dan
Bagaimana Guru Bisa Mendorongnya
Dalam
proses pembelajaran, siswa dituntut untuk menggunakan akal pikiran mereka guna
menangkap dan memahami semua informasi yang diberikan oleh guru. Guru juga
berperan membantu siswa agar menjadi pemikir yang baik. Pada dasarnya, berpikir
adalah mengelola dan mentransformasi
informasi dalam memori untuk membentuk konsep, bernalar, dan berpikir kritis, membuat keputusan, berpikir
kreatif, dan memecahkan masalah.
Menurut
KBBI, bernalar berarti menggunakan nalar atau berpikir logis. Penalaran
adalah pemikiran logis yang menggunakan logika baik induksi maupun
deduksi untuk menghasilkan suatu
kesimpulan. Penalaran induktif adalah penalaran dari
hal-hal yang spesifik ke hal yang lebih umum. Contoh sederhana, apabila seorang
guru menyebutkan kambing, kerbau, sapi, dan harimau, maka secara langsung
maupun tidak siswa akan mengerti bahwa yang disebutkan tadi merupakan
sekelompok hewan berkaki empat atau hewan-hewan yang melahirkan (mamalia).
Tentu
saja aspek penting dari penalaran induktif adalah pengamatan yang berulang,
karena dengan itu informasi tentang pengalaman yang sama akan terakumulasi ke
suatu titik bahwa pola berulang tersebut
dapat dideteksi dan dapat diambil suatu kesimpulan yang lebih akurat. Aspek
lain dari penalaran induktif adalah dasar untuk analogi. Analogi dapat
digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep-konsep baru dalam
membandingkannya dengan konsep yang sudah mereka pelajari. Biasanya konsep
analogi digunakan untuk menguji seseorang yang akan masuk ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi dan dunia pekerjaan/ karir.
Sedangkan
penalaran deduktif adalah cara bernalar dari umum ke spesifik.
Jika seorang guru menyebut kata transportasi darat, pasti sudah terbayang dalam
pikiran siswa berbagai kendaraan-kendaraan yang berjalan di daratan seperti
sepeda motor, mobil, truk, bus, kereta api, becak, dan sebagainya. Banyak aspek
penalaran deduktif yyang telah di pelajari, salah satunya termasuk kesempatan
saat pengetahuan bertentangan dengan penalaran. Misal : Semua pemain
baseball adalah pengemudi sepeda motor. Semua pengemudi sepeda motor adalah
wanita. Apakah benar atau salah kesimpulannya : semua pemain baseball
adalah wanita. Kesimpulan tersebut adalah pemotongan valid premis, namun
anak-anak jarang menyadarinya karena secara teori itu adalah benar. Artinya
sebenarnya siswa mampu menalar secara independen dari status kebenaran premis
karena sejak awal remaja hingga awal dewasa, setiap individu terus meningkatkan
kemampuannya untuk membuat kesimpulan yang akurat.
Selain
penalaran induktif dan deduktif, dalam pelaksanaan kurikulum 2013 ini siswa
juga dituntut untuk sadar membangun pemikiran yang kritis. Pemikiran yang
kritis adalah pemikiran reflektif dan produktif dan melibatkan evaluasi
bukti. Dalam proses pengajaran di sekolah, guru dapat memasukkan pemikiran
kritis dengan:
-
Jangan hanya
bertanya apa yang terjadi, namun tanyakan juga bagaimana dan mengapa.
-
Kajilah
bersama-sama tentang dugaan fakta untuk mengetahui apakah ada bukti untuk
mendukungnya.
-
Berdebatlah secara
rasional.
-
Akui bahwa
terkadang ada lebih dari satu jawaban atau penjelasan yang baik.
-
Evaluasi dan
tanyakan apa yang dikatakan orang lain, tidak menerima begitu saja.
-
Ajukan pertanyan
dan berspekulasi melalui apa yang sudah diketahui untuk menciptakan ide dan
informasi baru.
Namun
demikian, faktanya tidak semua guru mampu menerapkan proses berpikir kritis
kepada siswa dikarenakan keterbatasan kemampuan berpikir guru yang juga kurang
terlatih dimasa lampau. Sedikit sekali sekolah-sekolah yang mengajarkan
muridnya berpikir kritis. Kebanyakan sekolah tidak mendorong siswa untuk
memperluas pemikiran mereka dengan menciptakan ide baru. Banyak siswa yang
sukses menyelesaikan tugas dan ujiannya dengan nilai yang baik tetapi tidak
belajar secara kritis dan mendalam. Semakin guru mampu berpikir kritis dan
kreatif, semakin sering pula siswa terlatih untuk itu. Beberapa strategi yang
dapat dilakukan guru untuk meningkatkan pemikiran siswa agar menjadi pemikir
yang baik adalah:
- Jadilah pemandu agar siswa menyusun pemikiran mereka sendiri
- Gunakan pertanyaan berbasis pemikiran
- Beri model peran pemikir yang positif
- Sebagai guru, jadilah model peran positif bagi siswa anda
- Selalu ikuti perkembangan terkini dibidang pemikiran anda
Disamping
bernalar dan berpikir kritis, siswa juga perlu dilatih untuk membuat suatu
keputusan. Pembuatan keputusan adalah pemikiran dimana siswa
mengevaluasi berbagai pilihan dan memutuskan dari sekian banyak pilihan
tersebut. Tidak semua siswa mampu membuat keputusan secara matang dengan
mempertimbangkan berbagai faktor dan sebab akibat yang akan terjadi. Kebanyakan siswa membuat
keputusan karena bergantung pada orang lain atau ikut-ikutan teman. Kesalahan
siswa dalam membuat keputusan dipengaruhi oleh :
- Bias konfirmasi, adalah siswa cenderung mencari dan menggunakan informasi yang mendukung idenya daripada yang menyanggahnya.
- Kekerasan keyakinan, adalah siswa cenderung berpegang pada suatu keyakinan dalam menghadapi bukti yang bertentangan.
- Bias terlalu percaya diri, dimana siswa cenderung memiliki kepercayaan diri yang berlebihan dalam penilaian dan keputusan, daripada yang seharusnya, berdasarkan probabilitas atau pengalaman masa lalu.
- Bias hindsight/ masa lalu, dimana siswa cenderung melaporkan secara salah setelah terdapat fakta bahwa siswa telah memprediksi suatu kejadian secara akurat. Jadi siswa tidak hanya percaya diri tentang hal yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, tetapi mereka cenderung melebih-lebihkan kinerja masa lalu.
- Ketersediaan dan keterwakilan heuristik.Ketersediaan heuristik adalah prediksi tentang kemungkinan suatu kejadian berdasarkan frekuensi terjadiya peristiwa itu di masa lalu. Sedangkan keterwakilan heuristik adalah pembuatan keputusan yang salah karena berdasarkan pada seberapa baik sesuatu itu cocok dengan contoh yang paling umum, bukan pada relevansinya dalam situasi tertentu.
Strategi
guru agar dapat membuat keputusan yang
baik sekaligus membantu siswa membuat
keputusan yang baik adalah dengan menghindari dan meminimalkan terjadinya
pengaruh-pengaruh tersebut. Tidak hanya mampu berpikir kritis dan pandai
membuat keputusan, zaman sekarang siswa juga dituntut untuk mampu berpikir
kreatif. Kreativitas adalah kemampuan berpikir tentang sesuatu
dengan cara baru dan tak biasa, dan menghasilkan solusi yang unik atas suatu
problem. Strategi yang dapat membuat siswa menjadi kreatif diantaranya siswa
dalam kelompok didorong untuk
menghasilkan ide kreatif dan saling bertukar gagasan, beri lingkungan yang
memicu kreativitas, jangan terlalu mengatur dan mengontrol siswa, beri motivasi
internal, bentuk kepercayaan diri siswa, bantu siswa untuk memiliki pemikiran
yang fleksibel, kenalkan mereka dengan orang-orang kreatif dan manfaatkan
teknologi yang ada untuk menunjang kreativitas siswa.
Pendekatan Sistematis
untuk Memecahkan Masalah
Ketika
siswa sudah mampu berpikir dengan baik dan matang, diharapkan siswa dapat
mengaplikasikannya untuk memecahkan berbagai permasalahan, mulai dari yang
sederhana hingga yang rumit. Semakin berkembangnya zaman, semakin kompleks pula
masalah yang akan dihadapi siswa. Sehingga siswa juga harus dibekali dengan
ilmu yang tepat agar mampu menyelesaikan masalah secara efektif. Diantaranya
dengan:
1.
Mencari dan
memahami problem
2.
Menyusun dan
mengembangkan strategi pemecahan masalah yang baik
3.
Mengeksplorasi
solusi
4.
Memikirkan
dan mendefinisikan kembali problem dan
solusi dari waktu ke waktu
Dalam
menyelesaikan masalah, tidaklah terlepas dari berbagai rintangan. Beberapa
rintangan yang lazim ditemui dalam pemecahan masalah, misalnya siswa terpaku
pada satu strategi dan gagal untuk melihat masalah dari sudut pandang yang lain
(fiksasi), siswa memecahkan masalah hanya dengan cara khusus yang dianggap
nya berhasil pada masa yang lalu (mental set), kurangnya motivasi dan
bimbingan dari guru untuk menemukan solusi dari permasalahan yang berarti,
serta emosi siswa juga belum mampu terkontrol sekalipun ia sudah menemukan
suatu cara penyelesaian dari masalahnya.
Pembelajaran
berbasis masalah atau problem dan proyek sudah mulai banyak diuji cobakan pada
siswa di sekolah-sekolah. Pembelajaran berbasis masalah lebih menekankan pada
pemecahan masalah autentik yang terjadi dalam kehidupan sehari hari. Dimulai
dengan guru menyodorkan berbagai masalah, memberi pertanyaan, memfasilitasi
kerangka investigasi dan dialog. Itu semua diarahkan agar siswa mampu
menyelesaikan masalah secara sistematis dan logis, mampu saling bertukar ide
dan pendapat dalam menanggapi masalah. sedangkan pembelajaran berbasis proyek,
siswa bekerja pada masalah nyata dan berarti, yang melampaui orang-orang pada
kehidupan sehari-hari, menciptakan produk nyata. Dengan adanya
pengalaman-pengalaman tersebut, siswa berkembang secara utuh, tidak hanya
perkembangan kognitif, namun juga afektif dan psikomotoriknya.
Menjelaskan Transfer
dan Cara Guru untuk Memperkuatnya
Kesempurnaan
proses kognitif yang sesungguhnya dan yang menjadi tujuan penting kognitif
kompleks seseorang adalah ketika ia mampu mengaplikasikan pengalaman dan
pengetahuan yang dimilikinya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam
situasi baru. Itulah yang disebut dengan istilah transfer. Seorang siswa
yang telah belajar satu konsep matematika
dan kemudian menggunakannya untuk memecahkan problem sains atau problem
dalam kesehariannya, maka ia telah melakukan transfer.
Proses
transfer ini akan dialami siswa dalam berbagai kondisi. Transfer dekat
terjadi ketika situasinya sama dengan kejadian sebelumnya, transfer jauh
ketika situasinya sangat berbeda dengan sebelumnya, transfer jalur rendah
terjadi secara otomatis/ tidak sadar, tranfer jalur tinggi dilakukan
dengan banyak usaha dan secara sadar, transfer menjangkau kedepan ketika
siswa memikirkan tentang cara mereka mengaplikasikan apa yang telah mereka
pelajari, serta transfer menjangkau ke belakang terjadi ketika siswa
melihat ke situasi sebelumnya untuk mencari informasi yang akan membantu
memecahkan masalah nya dalam konteks baru.
Dalam
hal ini, guru juga berperan untuk membantu siswa mentranfer informasi yang
mereka miliki. Caranya dengan:
1.
Pikirkan apa
yang dibutuhkan siswa agar sukses dalam kehidupannya.
2.
Berikan siswa
kesempatan untuk mempelajari dunia nyata.
3.
Sajikan konsep
dengan aplikasinya.
4.
Ajarkan untuk
memahami transfer, lebih dari sekedar mengajarkan untuk mengingat.
5.
Gunakan petunjuk
atau cara yang mndorong siswa agar terlibat dalam penjelasan diri sendiri.
6.
Ajarkan siswa
strategi – startegi umum serta cara memodifikasinya jika digunakan dalam
konteks lain.
Sumber : Santrock, John W. 2014. Psikologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika.
Sumber : Santrock, John W. 2014. Psikologi Pendidikan (terjemahan). Jakarta: Salemba Humanika.
Komentar
Posting Komentar